Chapter I (Sumber Energi)
Pernah aku ceritakan kepadamu tentang mereka. Tentang sahabat-sahabat sakti mandraguna. Mereka itu pusaran air membahana, di samudera manusia. Mereka berputar sekilat cepat. Menghasilkan gelombang menendang-nendang. Berkelebat. Tapi, aku belum ceritakan kepadamu poros pusaran itu, bukan?. Jika mereka sebegitu hebat, lantas siapa yang memutar nya, memberi mereka energi sedimikian dahsyat?
Jangan pernah kau kira lelaki yang akan kuceritakan itu, adalah sosok yang memegang tongkat membaca mantera. Atau lelaki bersayap yang bisa mengangkat berton-ton material. Atau lelaki dengan produk kecanggihan paling mutakhir. Bukan semua nya. Mereka tak kelihatan hebat benar bagiku. Laki-laki ini hanya sosok biasa. Bisa marah, benci dan merana. Tapi tak tahu aku, kenapa hanya dengan pena berwarna dia bisa merubah realita, mengobrak abrik bongkahan karat jiwa, racun rancu, dan mengangkat degradasi iman, yang dikorupsi zaman setingkat-setingkat.
Dulu aku dan sahabat itu melingkar mengelilingi mereka. Karena poros itu bukan Cuma satu dua. Banyak jumlahnya, bahwa mereka sahabat hebat itu bukan kerumunan kecil sepuluh dua puluh. Ramai mereka. Bahwa mereka bukan jenis lelaki sahaja. Bukan Cuma pangeran-pangeran yang bersekongkol, tapi juga bidadari-bidadari perkasa yang tak kenal cerita-cerita dusta. Dengan lingkaran dan poros yang semakin melebar mengguncang. Itu sebabnya aku bilang mereka ini, perkasa bukan main.
Chapter II (Terbang melanglang)
Aku kirimkan maafku pada kalian, lewat angin. Aku meminta maaf sebenar- benarnya, ketika aku ‘menuduh’ kalian hanya akan menjadi pangeran dengan teritori kecil di daerah tempat imanku dibesarkan. Sekali lagi aku minta maaf. Tidak ada salah jika peradaban, kalian mulai disana. Tetapi, dalam hati kecilku, kukatakan, kalian lebih pantas untuk daerah yang jauh lebih menjanjikan petualangan. Berlarian dibibir pantai, atau menggali jejak-jejak sejarah di bumi para nabi, atau negeri orang-orang istimewa lain. Pergilah ke negeri yang jauh-jauh itu. Jejalkan kaki, bekaskan jejak. Biar semua tahu, bahwa sumber energi itu sedemikian dahsyat untuk sebuah teritori kecil, karena energi yang kita bawa adalah energi untuk semesta, melintasi batas geografi.
Mari mulai bangun, dan merinci rencana satu-satu, meretas jalan sukses. menebas ilalang, membuka jalan setapak, biar kaki pecah-pecah oleh kerikil, keringat sepenuh wajah. Kabut akan menghalang, pandang mata kian pendek, ruas tubuh mulai rapuh, tapi ujung jalan belum juga tampak. Maka ingatlah, bahwa dulu, kita pernah berjanji, menggapai sesuatu yang orang anggap mimpi. Tapi tidak demikian dengan kita, yakin sangat kita, akan energi membara dalam tubuh yang siap membakar apa-apa saja penghalang. Rapal saja do’a, dongak wajah ke atas, tunduk hati berserah. Dan nanti dalam terbangunmu, mimpi itu terbentang telah jadi nyata. Energi itu teman, sekali lagi. Terlalu dahsyat. Sangat. Read the rest of this entry »